JAKARTA, ESSAYONLINEAN.COM – Juru Bicara (Jubir) Kantor Komunikasi Kepresidenan Adita Irawati meminta maaf atas pernyataan kontroversial yang menggunakan diksi “rakyat jelata”. Pernyataan tersebut terkait dengan insiden yang melibatkan Utusan Khusus Presiden Miftah Maulana Habiburrahman, yang sebelumnya menghina seorang pedagang es teh bernama Sunhaji dalam sebuah acara di Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu (20/11/2024).
BACA JUGA : agustina-wilujeng-iswar-aminuddin-menang-telak-di-pilkada-semarang-2024
Adita Irawati, dalam penjelasannya yang disampaikan melalui akun Instagram resmi Kantor Komunikasi Kepresidenan, menyadari bahwa pemilihan kata dalam pernyataannya dianggap kurang tepat dan memicu reaksi negatif dari publik. Ia menegaskan bahwa kata “rakyat jelata” yang digunakan dalam komentarnya, tidak mencerminkan niat yang dimaksudkan dan malah berpotensi memperburuk situasi.
Penjelasan Adita Irawati
Adita, dalam video klarifikasi yang diunggah pada Kamis (5/12/2024), mengungkapkan rasa penyesalannya atas penggunaan diksi yang tidak sesuai. Ia mengakui bahwa kalimat yang diucapkannya dapat menyinggung banyak pihak, terutama masyarakat yang dianggap lebih rendah atau tidak setara.
“Pada kesempatan ini, saya ingin menjelaskan terkait pernyataan saya yang sedang ramai jadi perbincangan publik. Saya memahami, diksi yang saya gunakan dianggap kurang tepat. Untuk itu, secara pribadi, saya memohon maaf atas kejadian ini yang sebabkan kontroversi terhadap masyarakat,” ujar Adita dengan tulus.
Pernyataan ini disampaikan setelah diksi “rakyat jelata” yang digunakan oleh Adita dalam pernyataannya terkait Miftah Maulana Habiburrahman yang menghina pedagang es teh viral di media sosial dan memicu kritik dari netizen. Beberapa warganet menganggap kata tersebut terkesan merendahkan masyarakat yang dianggap berada di lapisan bawah, sementara Adita mengklaim bahwa tidak ada niat untuk merendahkan siapapun.
Klarifikasi Seputar Insiden Miftah Maulana
Kontroversi ini bermula dari tindakan Miftah Maulana Habiburrahman yang menghina pedagang es teh, Sunhaji, dalam acara pengajian yang digelar di Magelang. Miftah, yang juga dikenal sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama, sempat mengeluarkan komentar yang menyinggung Sunhaji, yang kemudian menjadi viral dan menuai kritik luas dari masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan, Adita memberikan pernyataan yang dimaksudkan untuk mengomentari insiden tersebut. Namun, pernyataan tersebut malah menambah polemik setelah diksi “rakyat jelata” dianggap tidak sesuai dengan konteks.
Reaksi Publik dan Dampaknya
Kontroversi ini menuai berbagai reaksi dari netizen yang merasa bahwa kata-kata yang digunakan oleh Adita telah merendahkan martabat masyarakat. Beberapa pihak menyatakan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan ketidakharmonisan antara pejabat negara dan masyarakat, sementara yang lain berpendapat bahwa penggunaan diksi tersebut memperburuk citra pemerintahan.
Adita, menyadari pentingnya untuk menjaga komunikasi yang lebih baik dengan publik, kemudian mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka. “Saya berkomitmen untuk lebih hati-hati dan bijak dalam memilih kata-kata, terutama saat berkomunikasi dengan masyarakat,” ujarnya lebih lanjut.
Tanggapan Terhadap Penggunaan Diksi
Pemilihan kata dalam komunikasi publik memang sangat penting, terutama bagi pejabat negara yang harus memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan masyarakat. Diksi seperti “rakyat jelata” dapat dengan mudah disalahartikan, mengingat konotasi negatif yang bisa muncul, terutama dalam konteks isu kesenjangan sosial.
Penting bagi pejabat publik untuk selalu memastikan bahwa setiap kata yang diucapkan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau menyinggung perasaan masyarakat. Adita Irawati, melalui permintaan maafnya, menunjukkan kesadaran akan pentingnya hal ini dan berjanji untuk lebih berhati-hati dalam pernyataan di masa mendatang.
Kesimpulan
Insiden terkait penggunaan diksi “rakyat jelata” oleh Adita Irawati menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam komunikasi publik, terutama dalam posisi strategis sebagai juru bicara pemerintah. Meskipun Adita sudah meminta maaf dan menjelaskan niat baiknya, hal ini tetap menunjukkan tantangan dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas yang memiliki beragam latar belakang.
Dengan permintaan maaf dan penjelasan yang diberikan, diharapkan kontroversi ini dapat segera reda dan menjadi pembelajaran bagi pejabat publik lainnya untuk lebih sensitif dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam pernyataan mereka.