ESSAYONLINEAN.COM,Denpasar, (15 Desember 2024) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyampaikan peringatan terkait potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Timur dan Bali. Kunjungan Dwikorita ke kantor gubernur kedua provinsi ini berlangsung pada Sabtu (14/12/2024) di Surabaya dan Minggu (15/12/2024) di Denpasar.
Dalam pertemuan tersebut, Dwikorita menyerahkan data terkini mengenai fenomena global yang memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia. Ia bertemu langsung dengan Pj. Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, serta Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, untuk memberikan informasi penting mengenai dampak La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif terhadap peningkatan curah hujan.
BACA JUGA : dokter-azmi-fadhlih-meninggal-dunia-di-bali-diduga-akibat-pecah-pembuluh-darah-kabar-duka-konfirmasi-keluarga/
“Kondisi global ini meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur dan Bali. Meski fenomena ini diprediksi netral pada awal 2025, masyarakat tetap harus waspada terhadap ancaman banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi,” ujar Dwikorita.
Fenomena La Nina dan IOD Negatif: Apa Dampaknya?
Dwikorita menjelaskan bahwa kombinasi antara La Nina dan IOD negatif dapat menyebabkan peningkatan signifikan dalam curah hujan, khususnya di wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
- La Nina: Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dari rata-rata, meningkatkan curah hujan di kawasan tropis, termasuk Indonesia.
- IOD Negatif: Fenomena ini memengaruhi pola angin dan kelembapan di Samudra Hindia, membawa lebih banyak uap air ke wilayah Indonesia.
Kedua fenomena ini, menurut Dwikorita, dapat meningkatkan risiko banjir bandang, tanah longsor, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir.
BACA JUGA : bnpb-siapkan-modifikasi-cuaca-untuk-kurangi-dampak-banjir-di-ponorogo-solusi-inovatif-atasi-hujan-deras/
Jawa Timur dan Bali: Wilayah yang Rentan
BMKG mengidentifikasi bahwa Jawa Timur dan Bali merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap dampak cuaca ekstrem ini. Curah hujan yang tinggi di kedua wilayah berpotensi memicu bencana, seperti:
- Banjir di wilayah dataran rendah.
- Tanah longsor di daerah perbukitan.
- Gelombang tinggi yang mengancam kawasan pesisir dan aktivitas pelayaran.
“Kami telah mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat agar tetap waspada, terutama di daerah yang rawan bencana hidrometeorologi,” tegas Dwikorita.
Upaya Pemerintah Daerah dalam Mitigasi
Dalam pertemuan tersebut, Pj. Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, menyatakan komitmennya untuk memperkuat langkah mitigasi bencana, termasuk pembersihan saluran air, perbaikan tanggul, dan edukasi masyarakat mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir.
Hal serupa disampaikan oleh Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, yang menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, dan masyarakat. “Kami siap bekerja sama untuk mengurangi risiko bencana di Bali, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir dan daerah wisata yang sering terdampak gelombang tinggi,” ujarnya.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat di Jawa Timur dan Bali untuk selalu memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, baik melalui aplikasi maupun media sosial. Beberapa langkah yang dianjurkan oleh BMKG meliputi:
- Meningkatkan kesiapsiagaan dengan memeriksa kondisi rumah, terutama di daerah rawan banjir.
- Menghindari perjalanan laut saat peringatan gelombang tinggi dikeluarkan.
- Menghindari lereng curam yang berisiko longsor saat curah hujan meningkat.
“Kami akan terus memberikan peringatan dini dan data terkini agar masyarakat bisa mengambil langkah pencegahan dengan tepat,” kata Dwikorita.
Kesimpulan
Kunjungan Kepala BMKG ini menjadi langkah penting dalam memperkuat koordinasi antar pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Dengan data yang akurat dan kesiapsiagaan yang tinggi, diharapkan dampak dari cuaca ekstrem dapat diminimalkan, sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga.