IHSG Bangkit 8093 Usai Krisis MSCI Februari 2026 menandai momentum penting dalam pemulihan pasar modal Indonesia. Setelah mengalami penurunan drastis hingga menyentuh level 7.654 pada akhir Januari 2026 akibat peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan.
Data dari Trading Economics menunjukkan IHSG berhasil mencapai level 8.093 pada Selasa sore, 11 Februari 2026, naik signifikan dari titik terendah krisis. Pemulihan ini terjadi bersamaan dengan implementasi delapan rencana aksi reformasi pasar modal yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar.
Bagi investor dan pelaku pasar modal, pemahaman mendalam tentang IHSG Bangkit 8093 Usai Krisis MSCI Februari 2026 menjadi krusial. Artikel ini akan membahas kronologi lengkap krisis, langkah-langkah pemulihan yang diambil otoritas, serta proyeksi pergerakan IHSG ke depan berdasarkan data dan analisis terkini.
Apa Itu IHSG Bangkit 8093 Usai Krisis MSCI Februari 2026?

IHSG Bangkit 8093 Usai Krisis MSCI Februari 2026 merujuk pada pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia yang mencapai level 8.093 pada 11 Februari 2026, setelah mengalami tekanan berat akibat keputusan MSCI untuk membekukan perubahan indeks saham Indonesia. Pembekuan ini diumumkan MSCI pada 27 Januari 2026 sebagai respons terhadap kekhawatiran investor global mengenai transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.
Menurut laporan Tempo.co, MSCI mengumumkan pembekuan sementara pada perubahan indeks tertentu untuk sekuritas Indonesia, termasuk pembaruan yang direncanakan untuk Februari 2026 dan corporate events. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko terkait dengan turnover indeks dan investasi, sambil memberi waktu kepada otoritas terkait untuk menerapkan peningkatan transparansi yang bermakna.
Krisis ini memicu panic selling masif. IHSG anjlok dari 8.975,33 menjadi 8.320,56 pada 27 Januari dan terus merosot ke 8.232,20 pada 29 Januari 2026. Bursa bahkan menerapkan dua kali trading halt pada 28 Januari dan satu kali pada 29 Januari setelah kerugian mendekati 8 persen. Namun, respons cepat dari pemerintah, OJK, dan BEI dalam mengumumkan reformasi komprehensif berhasil memulihkan kepercayaan investor, terbukti dari IHSG yang bangkit mencapai 8.093 pertengahan Februari 2026.
Kronologi Lengkap Krisis MSCI Januari-Februari 2026

Latar Belakang Peringatan MSCI
Pada Selasa, 27 Januari 2026, MSCI mengumumkan pembekuan sementara terhadap perubahan indeks tertentu untuk sekuritas Indonesia. Perusahaan penyedia indeks global ini membekukan semua peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan penyesuaian jumlah saham, serta menghentikan penambahan saham baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI).
MSCI menyatakan dalam rilisnya bahwa meskipun ada perbaikan kecil pada data free-float Bursa Efek Indonesia, investor terus menyoroti masalah mendasar terkait aksesibilitas investasi, termasuk kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran atas potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat merusak pembentukan harga yang akurat.
Dampak Terhadap IHSG
Pengumuman MSCI memicu reaksi pasar yang dramatis. IHSG turun dari 8.975,33 menjadi 8.320,56 pada 27 Januari dan berlanjut ke 8.232,20 pada 29 Januari 2026. Presiden Direktur BEI saat itu, Iman Rachman, mencatat bahwa investor bereaksi dengan panic selling masif.
Pada 29 Januari 2026, IHSG mengalami trading halt pada pukul 09:26 JATS setelah terjun 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66, sebelum akhirnya mengalami pemulihan. Kondisi ini menjadi salah satu penurunan terburuk dalam sejarah pasar modal Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Pada Senin, 2 Februari 2026, investor asing mencatat net buy sebesar Rp 654,9 miliar, terutama di saham perbankan, telekomunikasi, energi, dan pertambangan. Namun, arus masuk ini tidak cukup kuat untuk mengimbangi tekanan pada indeks secara keseluruhan.
Peringatan Downgrade ke Frontier Market
MSCI memperingatkan bahwa jika peningkatan transparansi tidak tercapai pada Mei 2026, perusahaan akan menilai kembali aksesibilitas pasar Indonesia, yang berpotensi menurunkan bobot sekuritas Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes dan bahkan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Ancaman downgrade ini sangat serius karena akan berdampak pada alokasi dana investor global. Emerging market status memiliki alokasi dana institusional yang jauh lebih besar dibandingkan frontier market, sehingga penurunan status dapat memicu capital outflow masif.
Respons Otoritas: 8 Rencana Aksi Reformasi Pasar Modal

Struktur 8 Rencana Aksi
Untuk mengatasi kekhawatiran MSCI dan memulihkan kepercayaan investor, OJK bersama Pemerintah dan stakeholder terkait menegaskan komitmen untuk mempercepat reformasi komprehensif pasar modal Indonesia melalui delapan rencana aksi yang dikelompokkan ke dalam empat kluster: kebijakan free float baru, transparansi, tata kelola dan penegakan hukum, serta sinergi.
Kluster 1: Kebijakan Free Float
Rencana aksi pertama adalah meningkatkan persyaratan free float minimum untuk perusahaan tercatat menjadi 15 persen, naik dari ambang batas saat ini 7,5 persen, untuk diterapkan secara bertahap. Perusahaan yang baru mencatatkan saham melalui IPO dapat dikenakan persyaratan 15 persen segera, sementara perusahaan tercatat yang sudah ada akan diberikan masa transisi.
Kluster 2: Transparansi
Fokus kedua adalah transparansi mengenai ultimate beneficial ownership (UBO). OJK berkomitmen untuk mewajibkan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, turun dari standar sebelumnya yang hanya 5 persen.
Otoritas akan menyediakan data kepemilikan saham yang lebih granular dengan merinci klasifikasi investor dari 9 tipe utama menjadi 27 sub-tipe investor. Dengan data yang lebih mikro, pasar dapat mengidentifikasi dengan jelas profil pemegang saham di balik setiap emiten.
Kluster 3: Tata Kelola dan Penegakan Hukum
Rencana aksi keempat adalah demutualisasi Bursa Efek Indonesia sebagaimana diamanatkan undang-undang untuk memperkuat tata kelola dan mengurangi konflik kepentingan. OJK juga memperkuat mekanisme penegakan hukum dan investigasi kasus manipulasi pasar.
Kluster 4: Sinergi
Kluster terakhir menekankan koordinasi antara OJK, BEI, KSEI, dan stakeholder lainnya untuk memastikan implementasi reformasi berjalan tepat waktu dan efektif.
Timeline Implementasi
OJK menargetkan perbaikan data pasar saham Indonesia (granulasi data) tuntas pada akhir Februari 2026, dengan OJK akan menyampaikan data riil yang bersumber dari partisipan di KSEI mulai awal Maret 2026.
Seluruh inisiatif ini ditargetkan selesai sebelum akhir April 2026. Ke depan, BEI dan KSEI, dengan arahan OJK, mengonfirmasi komitmen mereka untuk terus menjaga komunikasi yang tepat waktu, proaktif, dan konstruktif dengan MSCI.
Faktor-Faktor Pendorong Pemulihan IHSG ke Level 8093

Komunikasi Konstruktif dengan MSCI
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa proposal resmi telah disampaikan kepada MSCI pada 5 Februari 2026, mencakup tiga pokok usulan utama: granulasi dari kategori investor, pengungkapan nama shareholders dari 5% menjadi 1%, serta rencana penerapan peraturan terkait free float.
Komunikasi intensif antara otoritas Indonesia dengan MSCI berjalan lancar. Hasan Fawzi menyatakan bahwa sejauh ini berbagai tahap pertemuan dan rapat dengan MSCI berjalan dengan lancar tanpa kendala. Dialog konstruktif ini memberikan sinyal positif kepada investor bahwa otoritas serius dalam menjalankan reformasi.
Sentimen Positif dari Data Ekonomi Domestik
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan keyakinan bahwa pertumbuhan PDB Indonesia kuartal pertama akan melampaui 5,39% yang tercatat di Q4, didukung oleh konsumsi yang lebih kuat selama festival Tahun Baru Imlek dan Ramadan.
Kepercayaan konsumen mencapai level tertinggi dalam 12 bulan pada Januari 2026, menjelang festival Tahun Baru Imlek dan Ramadan. Data ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun terjadi gejolak di pasar modal.
Dukungan FTSE Russell
FTSE Russell mendukung rencana aksi yang dilaksanakan oleh BEI, OJK, dan Self-Regulatory Organizations (SROs), dengan menekankan bahwa implementasi harus sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan.
Meskipun FTSE Russell menunda review indeks Indonesia untuk periode Maret 2026, Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa penundaan ini murni masalah operasional teknis dan FTSE Russell tidak menimbulkan kekhawatiran mengenai klasifikasi negara.
Inflow Investor Asing
Investor asing mulai kembali masuk ke pasar Indonesia dengan saham-saham siklikal, energi, dan industri memimpin penguatan, dengan pemain terkemuka termasuk Dian Swastatika Sentosa naik 3,3%, United Tractors naik 2,1%, dan Bayan Resources naik 1,4%.
Proyeksi Pergerakan IHSG Februari-Mei 2026
Pandangan Analis Teknikal
Analis teknikal memperkirakan IHSG cenderung akan mengalami sideways dalam beberapa bulan untuk adjustment permintaan MSCI dan perbaikan mendasar dalam mekanisme bursa, dengan harga IHSG cenderung bergerak dalam range 7.100-9.200.
Proyeksi ini didasarkan pada analisis pola pergerakan harga dan kondisi teknikal setelah periode koreksi tajam. Fase konsolidasi ini diperlukan agar pasar dapat menyerap supply yang ada dan membangun fondasi untuk kenaikan berkelanjutan.
Analisis Fundamental
Muhammad Fatah Al Falah, Founder Kawancuan Indonesia, menilai bahwa tekanan pasar lebih bersifat teknikal dibanding fundamental, dengan GDP Indonesia justru naik dan investor global masih dalam kondisi greedy berdasarkan CNN Business Fear and Greed Index.
Fatah menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang akan menggerakkan IHSG adalah arah kebijakan likuiditas Amerika Serikat melalui Quantitative Easing (QE) dan Quantitative Tightening (QT), dengan fase likuiditas global yang longgar dapat menopang pasar saham hingga kuartal II 2026.
Target Level Resistance dan Support
Berdasarkan analisis teknikal terkini, resistance mingguan IHSG saat ini berada di level 8.596 dan 9.058. Jika IHSG berhasil menembus level resistance ini dengan volume yang kuat, potensi kenaikan lebih lanjut terbuka lebar.
Untuk level support, zona penting berada di sekitar 7.900-8.000. Selama IHSG mampu bertahan di atas level support ini, bias pergerakan masih positif untuk jangka pendek.
Dampak Krisis MSCI Terhadap Investor Retail dan Institusi
Investor Retail
Krisis MSCI memberikan pelajaran penting bagi investor retail tentang pentingnya diversifikasi dan manajemen risiko. Banyak investor retail yang terjebak dalam panic selling pada puncak krisis dan mengalami kerugian signifikan.
Namun, bagi investor retail yang memiliki perspektif jangka panjang dan melakukan averaging down pada harga murah, pemulihan IHSG ke level 8.093 memberikan keuntungan yang cukup baik. Saham-saham fundamental yang terkoreksi berlebihan menjadi peluang akumulasi yang menarik.
Investor Institusional
Liza Suryanata, kepala riset di Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa free float bukan sekadar angka kepemilikan, tetapi fondasi untuk menilai apakah pasar benar-benar dapat diakses oleh investor institusional besar.
Reformasi yang sedang berjalan memberikan sinyal positif kepada investor institusional bahwa pasar modal Indonesia sedang berbenah menuju praktik global yang lebih baik. Hal ini diharapkan dapat menarik lebih banyak dana institusional global ke pasar Indonesia.
Perubahan Perilaku Trading
Pasca krisis, terlihat perubahan perilaku trading di pasar. Investor menjadi lebih selektif dan fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Rotasi sektor juga lebih terlihat, dengan dana bergerak dari saham-saham spekulatif ke saham-saham dengan valuasi yang wajar.
Langkah-Langkah Strategis untuk Investor
Strategi Jangka Pendek (1-3 Bulan)
Fokus pada Saham LQ45 dan IDX100
Dengan penerapan regulasi UBO dan transparansi yang dimulai dari saham-saham di IDX100, fokuskan portofolio pada emiten-emiten yang masuk dalam indeks ini. Saham-saham ini akan mendapat perhatian lebih dari regulator dan investor institusional.
Perhatikan Sektor Defensif
Mengingat masih adanya ketidakpastian terkait implementasi reformasi, alokasikan sebagian portofolio pada saham-saham defensif seperti consumer goods, healthcare, dan utilities yang cenderung lebih stabil saat volatilitas tinggi.
Manfaatkan Technical Rebound
IHSG mengalami rebound kuat pada 9 Februari 2026, naik 96,614 poin (1,22%) ke level 8.031,874. Pola rebound ini dapat dimanfaatkan untuk swing trading dengan target profit 3-5% dalam jangka pendek.
Strategi Jangka Menengah (3-6 Bulan)
Akumulasi Saham Fundamental
Periode konsolidasi adalah waktu yang tepat untuk melakukan akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat yang sempat terkoreksi berlebihan. Fokus pada emiten dengan earning growth yang konsisten dan dividend yield yang menarik.
Diversifikasi Sektor
Fatah menilai IHSG berpotensi bergerak dengan pola rotasi sektor, bukan reli merata, dengan urutan: precious metal dulu, industrial metal, baru energi. Diversifikasi sektor memungkinkan investor menangkap peluang dari rotasi ini.
Monitor Implementasi Reformasi
Pantau perkembangan implementasi 8 rencana aksi OJK hingga deadline April 2026. Keberhasilan implementasi akan menjadi katalis positif untuk penguatan IHSG lebih lanjut.
Strategi Jangka Panjang (6-12 Bulan)
Fokus pada Growth Stocks
Proyeksi analis menunjukkan IHSG berpotensi bergerak positif menuju 9.200 jangka pendek dan 9.800-10.400 untuk jangka panjang setidaknya hingga semester pertama tahun 2026. Growth stocks di sektor teknologi, infrastruktur, dan green energy dapat menjadi pilihan untuk capturing upside jangka panjang.
Buy and Hold Quality Stocks
Strategi buy and hold pada saham-saham berkualitas tinggi dengan moat bisnis yang kuat masih relevan. Fokus pada perusahaan dengan market leadership, cash flow yang sehat, dan track record manajemen yang baik.
Dollar Cost Averaging (DCA)
Implementasikan strategi DCA untuk mengurangi risiko timing. Dengan membeli secara berkala terlepas dari kondisi pasar, investor dapat memperoleh harga rata-rata yang lebih optimal dalam jangka panjang.
Risiko dan Tantangan ke Depan
Risiko Eksternal
Kebijakan Moneter Global
Kebijakan suku bunga Federal Reserve AS dan bank sentral global lainnya masih menjadi faktor kunci. Jika The Fed menunda penurunan suku bunga atau bahkan menaikkan suku bunga kembali, tekanan pada emerging markets termasuk Indonesia akan meningkat.
Ketegangan Geopolitik
Ketika konflik dan ketidakpastian meningkat, investor cenderung keluar dari fiat currency dan masuk ke precious metal, industrial metal, lalu energi. Eskalasi konflik geopolitik dapat memicu risk-off sentiment yang merugikan pasar saham.
Pelemahan Ekonomi Global
Jika ekonomi global mengalami perlambatan signifikan, permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia akan menurun, berdampak negatif pada kinerja emiten-emiten terkait.
Risiko Internal
Implementasi Reformasi
Risiko terbesar adalah kegagalan atau keterlambatan dalam implementasi 8 rencana aksi reformasi. Jika peningkatan transparansi tidak tercapai pada Mei 2026, MSCI dapat menilai kembali status pasar Indonesia, yang dapat memicu capital outflow masif.
Inflasi Domestik
Inflasi pada Januari 2026 tercatat 3,55 persen year-on-year, tertinggi sejak Mei 2023, melampaui target Bank Indonesia. Inflasi yang terus meningkat dapat membatasi ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga, mengurangi daya tarik pasar saham.
Likuiditas Pasar
Free float yang rendah masih menjadi isu struktural. Meskipun regulasi baru akan meningkatkan free float minimum menjadi 15%, implementasinya membutuhkan waktu dan dapat menimbulkan tekanan jangka pendek pada beberapa saham dengan free float rendah.
Pelajaran dari Krisis MSCI untuk Investor
Pentingnya Due Diligence
Krisis MSCI mengajarkan pentingnya melakukan due diligence mendalam sebelum berinvestasi. Investor harus memahami tidak hanya fundamental perusahaan, tetapi juga struktur kepemilikan, likuiditas, dan faktor-faktor governance yang dapat mempengaruhi valuasi saham.
Manajemen Risiko yang Ketat
Penetapan stop loss dan position sizing yang tepat terbukti sangat penting saat krisis. Investor yang memiliki manajemen risiko yang baik dapat membatasi kerugian saat terjadi panic selling, bahkan dapat memanfaatkan penurunan untuk akumulasi.
Diversifikasi Lintas Aset
Krisis ini menunjukkan pentingnya diversifikasi tidak hanya lintas saham, tetapi juga lintas kelas aset. Alokasi sebagian portofolio ke obligasi, emas, atau properti dapat memberikan cushion saat ekuitas mengalami koreksi tajam.
Perspektif Jangka Panjang
Investor dengan perspektif jangka panjang yang tidak panik saat krisis dan tetap hold atau bahkan averaging down pada saham-saham fundamental, kini mulai menikmati pemulihan. Hal ini membuktikan bahwa investasi saham memerlukan kesabaran dan disiplin.
Baca Juga Prabowo Bawa Investasi Rp90 Triliun dari Inggris 2026
Pertanyaan Umum: IHSG Bangkit 8093 Usai Krisis MSCI Februari 2026
Q: Apa penyebab utama IHSG anjlok pada akhir Januari 2026?
Penyebab utama adalah pengumuman MSCI pada 27 Januari 2026 yang membekukan perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia karena kekhawatiran transparansi. MSCI menyoroti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi perilaku trading terkoordinasi yang dapat merusak pembentukan harga akurat. Hal ini memicu panic selling masif dan IHSG turun drastis hingga menyentuh level terendah 7.654.
Q: Bagaimana prospek IHSG hingga akhir 2026?
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental, prospek IHSG cukup positif dengan proyeksi bergerak dalam range 7.100-9.200 untuk jangka pendek hingga menengah. Analis memperkirakan potensi mencapai 9.200-9.800 pada semester kedua 2026 jika implementasi reformasi berjalan sukses dan kondisi ekonomi global mendukung. Namun, pergerakan diperkirakan tidak akan linear, melainkan dengan pola rotasi sektor.
Q: Apakah Indonesia akan di-downgrade menjadi frontier market?
Risiko downgrade masih ada jika reformasi tidak berhasil pada Mei 2026. Namun, langkah-langkah konkret yang diambil OJK dan BEI seperti peningkatan transparansi UBO, granulasi data kepemilikan saham, dan peningkatan free float minimum menjadi 15% menunjukkan keseriusan otoritas. Komunikasi konstruktif dengan MSCI juga berjalan lancar, sehingga kemungkinan downgrade dapat diminimalkan jika semua timeline implementasi terpenuhi.
Q: Saham apa yang sebaiknya dibeli saat IHSG di level 8093?
Fokus pada saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 dan IDX100 karena akan mendapat prioritas dalam implementasi regulasi transparansi dan UBO. Pilih emiten dengan fundamental kuat, free float yang sudah memenuhi standar minimal, likuiditas tinggi, dan valuasi yang wajar. Sektor yang menarik antara lain banking (mendapat inflow asing), commodity-based stocks (didukung harga komoditas global), dan consumer goods (defensif dengan pertumbuhan stabil).
Q: Bagaimana cara melindungi portofolio dari volatilitas pasca krisis MSCI?
Strategi proteksi meliputi: diversifikasi lintas sektor dan saham dengan korelasi rendah, alokasi sebagian dana ke instrumen defensif seperti obligasi atau money market, penetapan stop loss ketat (5-8% di bawah harga beli), rebalancing berkala untuk menjaga proporsi aset sesuai risk tolerance, dan hindari penggunaan leverage atau margin trading yang berlebihan. Jaga cash position minimal 20-30% untuk peluang averaging down jika terjadi koreksi.
Q: Apakah reformasi OJK dan BEI cukup untuk mengatasi masalah struktural pasar modal Indonesia?
Delapan rencana aksi yang diumumkan merupakan langkah signifikan dalam arah yang benar. Peningkatan free float menjadi 15%, transparansi UBO, granulasi data kepemilikan, dan demutualisasi BEI adalah reformasi struktural yang sudah lama ditunggu. Namun, keberhasilan reformasi sangat bergantung pada eksekusi dan penegakan hukum yang konsisten. Jika implementasi berjalan sesuai timeline dan ada enforcement yang tegas terhadap pelanggar, reformasi ini dapat secara fundamental meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia.
Kesimpulan
IHSG Bangkit 8093 Usai Krisis MSCI Februari 2026 merupakan momentum penting yang menandai resiliensi pasar modal Indonesia menghadapi tantangan berat. Pemulihan dari titik terendah 7.654 ke level 8.093 dalam waktu relatif singkat menunjukkan bahwa respons cepat dan tepat dari otoritas dapat memulihkan kepercayaan investor.
Delapan rencana aksi reformasi yang diumumkan OJK dan BEI memberikan harapan bahwa pasar modal Indonesia akan menjadi lebih transparan, likuid, dan investable. Peningkatan free float menjadi 15%, transparansi UBO, dan granulasi data kepemilikan adalah langkah struktural yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global.
Bagi investor, periode ini menawarkan peluang sekaligus tantangan. Volatilitas masih akan terjadi selama masa transisi implementasi reformasi, namun bagi mereka yang memiliki perspektif jangka panjang dan manajemen risiko yang baik, peluang untuk membangun portofolio berkualitas dengan harga menarik sangat terbuka.
Kunci kesuksesan investasi di fase ini adalah tetap waspada, selektif dalam memilih saham, disiplin dalam manajemen risiko, dan fokus pada fundamental jangka panjang. Monitor terus perkembangan implementasi reformasi dan komunikasi OJK-BEI dengan MSCI hingga deadline Mei 2026, karena ini akan menjadi turning point penting bagi masa depan pasar modal Indonesia.
Penulis: Tim Riset essayonlinean.com dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam analisis pasar modal Indonesia. Artikel ini disusun berdasarkan riset mendalam dari sumber-sumber terpercaya dan dikemas dengan perspektif praktis untuk investor retail dan institusional.
Referensi
- Trading Economics, “Indonesia Stock Market (JCI) – Quote – Chart – Historical Data – News“, 2026.
- Tempo.co, “IHSG Plunge Explained: What Happened, Why It Matters, and What Followed“, 2026.
- OJK, “Press Release: OJK Accelerates Capital Market Reform to Strengthen Liquidity And Investor Confidence“, 2026.
- Kompas.id, “Following MSCI, FTSE Russell Postpones Indonesia Index Review“, 2026.
- Liputan6.com, “OJK Siapkan Data Riil Saham ke MSCI mulai Maret 2026“, 2026.